Salah seorang tokoh budaya yang masih hidup, Toeti Heraty Noerhadi Roosseno, belum lama ini menerima Tanda Kehormatan Bintang Budaya Parama Dharma dari Presiden Joko Widodo. Toeti adalah satu dari delapan tokoh yang menerima penghargaan karena dinilai sudah banyak berjasa kepada bangsa dan negara di bidang budaya.

Semasa muda hingga kini, Toeti selalu merasakan "keresahan" dan berusaha melepaskan diri dari kemapanan. Penyair perempuan yang juga filsuf ini mengaku sejak kecil sudah senang membaca dan menulis serta tak pernah berhenti untuk belajar, baik secara formal maupun melalui pergaulannya di bidang seni dan budaya.

Untuk mengetahui seperti apa sepak terjang kekaryaan dan perjuangannya sehingga pada usia senja dia menerima Tanda Kehormatan Bintang Budaya Parama Dharma, wartawan Koran Jakarta, Frans Ekodhanto, berkesempatan mewawancarai Toeti Heraty Noerhadi Roosseno, di Jakarta, baru-baru ini. Berikut petikan selengkapnya.

Kenapa Anda memilih jalur kesenian, kebudayaan, dan filsafat?

Sebetulnya saya tidak memilih, saya hanya menjalani kuliah di Fakultas Kedokteran karena di keluarga ada tradisi mendalami ilmu eksakta. Ayah saya ahli beton bertulang dan konstruksi besi, jadi kuat dalam matematika dan mekanika. Itu dipertahankan dalam keluarga.

Mengambil Fakultas Kedokteran sebetulnya bukan pilihan mutlak saya. Karena saya juga unggul dalam matematika, tapi saya senang sekali membaca. Sebetulnya, matematika dan membaca itu dua hal yang berbeda. Yang satu ke angka, yang ini ke bahasa. Berarti dari awal sudah ada kontradiksi.

Hal itu membuat sulit untuk memilih. Akhirnya mengambil kedokteran, bukan pilihan saya, tapi keinginan ibu saya. Lantas, saya jalani sampai empat tahun lebih. Setelah itu, saya menyadari bahwa ini bukan yang saya inginkan. Saya tahu ini bukan yang saya inginkan, tetapi saya tidak tahu apa yang saya inginkan.

Lalu saya berpikir, kalau saya sudah suntuk dengan yang sifatnya tubuh karena belajar tentang tubuh, lalu praktikum anatomi, memotong-motong tubuh. Lantas di mana jiwanya? Akhirnya, saya berpikir harus mengambil sesuatu yang terkait dengan jiwa. Akan tetapi, ilmu psikologi belum ada di Indonesia pada waktu itu. Kemudian, saya terpaksa harus ke luar negeri, ke Amsterdam, Belanda, ambil jurusan psikologi sampai lulus sarjana muda.

Saat itu, saya mendapatkan dua gelar sarjana muda, yaitu kedokteran di Jakarta dan psikologi di Amsterdam. Sarjana mudanya kembar dan saya melahirkan anak kembar. Pada saat itu, suami sudah selesai studi jurusan biologi di Belanda. Lantas, kami pindah ke Bandung karena di ITB Bandung, suami menjadi ketua jurusan Botani.

Menjadi dosen psikologi di Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung, satu-satunya yang sipil. Lainnya militer sebab mereka dari Pusat Psikologi TNI Angkatan Darat di Bandung. Saat itu saya kebetulan sering komunikasi dengan seniman ketika di Bandung. Saya merasa kehidupan sebagai dosen, istri dosen, ibu rumah tangga dengan empat anak, saya merasa ada yang kurang. Saya resah, karena itu saya merasa harus mengambil pilihan lain.

Saya tahu apa yang saya tidak mau. Situasinya terlalu mapan dan harus meninggalkan Bandung ke Jakarta untuk membangun kehidupan baru. Kehidupan apa itu, saya belum tahu. Lalu, saya mengadakan negosiasi dengan suami.

Saya mengatakan, sekarang giliran saya untuk membuka pintu dan jendela luas, untuk berkembang. Sebab kamu (katanya kepada suami), sudah sempat mengambil gelar doktor, studi ke Singapura, Amerika Serikat (agak lama meninggalkan keluarga) maka sekarang waktunya gantian. Lalu saya pindah ke Jakarta.

KORAN JAKARTA/MUHAEMIN A UNTUNG

Lantas apa respons suami pada saat itu?

Suami pun bertanya kalau saya tidak setuju bagaimana? Maka saya katakan ya, sudah bubar riwayat kita sebab ini point of no return. Jadi, saya betul-betul tahu apa yang saya tidak mau, yaitu tidak mau tinggal di Bandung. Menurut saya, Bandung dunianya sempit, jadi saya mau pindah ke Jakarta.

Apakah ada yang menggerakkan keinginan itu?

Bisa juga itu tergerak oleh buku yang sempat saya bahas habishabisan waktu menulis skripsi psikologi, yaitu tentang feminisme yang ditulis Simon de Buffer. Bisa jadi tergerak juga untuk mencari kebebasan maka saya pindah ke Jakarta. Ketika pindah ke Jakarta, saya membawa satu dari empat anak yang masih kecil, belum sekolah. Sedang yang tiga, tunggu naik kelas dulu.

Di Jakarta, saya menyewa pavilun kecil, yang ternyata dekat dengan balai budaya. Saya sering ke balai budaya dan bertemu dengan seniman-seniman dari Bandung yang sudah saya kenal sebelumnya. Hal itu membuka cakrawala dan suasana di Jakarta sangat mendukung karena pada waktu itu tahun 1966, yaitu awal Orde Baru. Di sanalah saya mulai menulis puisi.

Ketika baru pindah dari Bandung, apa pekerjaan Anda di Jakarta?

Ayah saya mengatakan kamu kelihatan pengangguran. Ayo ikut saya. Ayah saya, waktu itu menjadi Menteri Pekerjaan Umum dan tidak sempat mengurusi perusahaan yang didirikan pada 1951. Ketika diserahkan kantor tersebut, saya kurang paham mengurusnya. Bidang saya kedokteran, psikologi, terus puisi, kok harus pegang satu kantor perusahaan di bidang hukum.

Sebagai anak perempuan yang pernah mengecewakan orang tua sebab saya pindah-pindah, dari kedokteran ke psikologi, maka saya lakukan itu. Akhirnya, perusahaan itu saya pegang, berkembang kemudian menjadi tulang punggung keuangan keluarga hingga kini. Saya memegang kantor itu dari tahun 1966 hingga 2017. Kalau tidak salah sudah 51 tahun. Kantor itu menjadi kantor ranking 1 di bidang Hak Kekayaan Intelektual (Haki).

Kenapa Anda menulis puisi?

Saya tidak menulis puisi. Saya hanya membuat catatan pribadi dan catatan itu numpuk. Karena numpuk, saya kirim ke HB Jassin. Oleh HB Jassin itu dianggap puisi. Saya tidak tahu, apakah itu suatu kecelakaan atau kebetulan. Lalu dibahas oleh Subagio Sastrowardoyo, saya gemetaran karena Subagio baru membahas sajaknya Arifin Noor dan ketika itu dibantai habis-habisan.

Ada resensi yang sangat positif dari Subagio Sastrowardoyo di Majalah Horison, ditambah lagi ada kunjungan WS Rendra ke rumah untuk menyambut saya sebagai penyair baru. Jadinya, lucu. Tapi itu pun sesuatu yang tidak saya inginkan secara sadar, tetapi berkembang begitu saja. Lalu penulisan itu berlangsung terus.

Awalnya gencar, lama kelamaan sesekali, tapi tetap berlangsung. Sekarang puisi saya terbit di dua buku, yaitu Antologi Puisi Indonesia (kumpulan puisi Indonesia di semua generasi/periode) ada empat puisi saya di sana. Kalau penyair perempuan, saya yang pertama menulis buku puisi penyair perempuan.

Kenapa Anda banyak mempunyai lukisan (kolektor)?

Saya bukan sengaja jadi kolektor, akan tetapi karena memiliki banyak teman seniman. Mereka memberi hadiah atau saya beli lukisannya atau saya membeli dengan menyicil. Intinya, setiap lukisan saya ada riwayatnya.

Soal studi filsafat yang Anda tempuh, bagaimana ceritanya?

Itu karena situasinya mapan. Di Jakarta, selain memimpin perusahaan yang bergerak di bidang hukum dan mengajar psikologi di UI dan Unpad, saya kembali merasa resah, lalu mengambil studi filsafat. Waktu saya berangkat ke Belanda untuk mengambil doktor psikologi, namun pilihan itu belum mantap. Pokoknya meninggalkan kemapanan di sini karena pekerjaan baik, keuangan baik, rumah baik, anakanak baik, semuanya baik.

Saya berangkat ke Leiden, Belanda, untuk mengambil filsafat. Setelah selesai studi itu, pulang ke Indonesia dan membantu membuat jurusan filsafat di UI. Kemudian, diusulkan menjadi Guru Besar Filsafat dari UI ketika mau pensiun. Jadi banyak hal yang datang begitu saja sebagai suatu karunia.

Sampai saat ini sudah berapa buku puisi?

Kalau buku puisi saya tidak banyak. Saya banyak membuat antologi, misalkan Seserpih Pinang Sepucuk Sirih (khusus puisi wanita), Manifestasi Indonesia Belanda, dan beberapa kumpulan puisi lain. Ada prosa lirik, Calon Arang dan prosa lirik lain. Ada buku Berpijak pada Filsafat, Tentang Manusia Indonesia, Hidup Matinya Sang Pengarang. Saya rasa, lebih dari 10 buku yang saya tulis, tidak hanya puisi. Kalau buku puisi, saya tidak terlalu banyak. Menulis puisi itu tidak bisa dipaksakan.

Siapa yang paling mendukung karier selama ini?

Saya kira banyak orang yang mendukung. Akan tetapi, bapak saya mengatakan kalau saya ini membingungkan. Sebab dari kedokteran ke psikologi, dari psikologi ke filsafat, belum lagi menulis. Bapak saya berpesan, apa pun yang kau lakukan, pasti kau tahu apa yang terbaik untukmu. Secara moril, dukungan itu sudah tanpa syarat. Itu sangat mendukung. Yang penting bagi saya kebebasan jiwa dan kepuasan batin.

Usia Anda kini sudah senja, apakah ilmu-ilmu yang Anda miliki kini sudah diregenerasikan ke anak atau ke generasi kekinian?

Saya sudah mencoba, tapi tidak sempurna. Misalnya, menyusun suatu buku Berpijak pada Filsafat, yang saya kumpulkan dari 35 disertasi mahasiswa filsafat yang saya bimbing. Itu saya anggap sebagai regenerasi dan lain sebagainya.

Bagaimana Anda menilai penghargaan Bintang Paramadarma dari Presiden?

Itu sebagai anugerah tak terduga. Lucunya, dari delapan penerima bintang, tiga untuk budaya. Dari tiga untuk budaya itu dua sudah almarhum, yang Soedjatmoko dan pelukis Dullah. Waktu Presiden Jokowi menyematkan bintang kepada saya, saya mengatakan Pak Jokowi, yang terima bintang ada tiga orang, yang dua sudah almarhum. Saya tiga bulan lalu hampir almarhum karena saya sakit keras. Presiden Jokowi menjawab, ya jangan.

Di usia senja ini, apa yang akan Anda lakukan berikutnya? Atau karya apa lagi yang akan lahir?

Saya sudah merencanakan apa yang masih bisa saya lakukan. Jangan-jangan karena dapat bintang, dilakukan hal yang mulukmuluk, itu yang mustahil. Apalagi, pada waktu itu, di Belanda, saya sakit keras, kritis, sampai-sampai keluarga saya semua didatangkan.

Ada majalah yang sempat saya dirikan, namanya Mitra diterbitkan oleh Mitra Budaya di Jalan Tanjung, tapi kantornya disita oleh negara, jadi berhenti setelah terbit 11 kali. Sekitar satu setengah tahun lalu, saya berminat dan mau membangkitkan kembali.

N-3

Baca Juga: