Maestro seni lukis Indonesia, Srihadi Soedarsono Adhikoesoemo meninggal dunia dalam usia 90 tahun. Kabar berpulangnya Srihadi cepat menyebar bukan hanya di antara sesama seniman, khususnya pelukis, tetapi juga di berbagai kalangan seperti pendidik, pecinta lukisan, dan tentunya kalangan pers.

Hal ini tidak lepas dari latar belakang Srihadi yang selain pelukis, ia juga seorang pendidik, dan punya latar belakang sebagai wartawan pejuang di zaman penjajahan.

Sebagai pelukis, Srihadi adalah maestro. Srihadi adalah generasi penerus dari maestro sebelumnya seperti Raden Saleh dan Basuki Abdullah. Karya-karya Srihadi banyak diburu kolektor seni lukis bukan hanya dari Indonesia saja, tetapi juga Asia dan belahan dunia lainnya. Maka tidak mengherankan jika dalam setiap pameran karya-karyanya, selalu dibanjiri pengunjung yang sebagian besar kolektor papan atas.

Salah satu lukisannya yang sangat terkenal adalah Bedhaya Ketawang. Bedhaya Ketawang adalah tarian kebesaran yang hanya dipertunjukkan ketika penobatan serta upacara peringatan kenaikan tahta raja. Lukisan Bedhaya Ketawang karya Srihadi penuh unsur spiritual sehingga tarian dalam lukisan seperti hidup.

Srihadi memiliki sisi humanis yang sangat tinggi. Hampir sebagian besar karyanya, tentang manusia dengan segala aktivitasnya. Kalau toh ia melukis Borobudur, itu adalah cerminan tentang peradaban manusia.

Suatu Ketika di tahun 1959 saat Srihadi akan studi di Ohio State University, Amerika Serikat, sepanjang perjalanan menuju Bandar Udara Kemayoran Jakarta, ia banyak melihat masyarakat yang kelaparan. Pengalaman yang sangat menyentuh sisi kemanusiaan itu kemudian ia ungkapkan dalam lukisan.

Srihadi banyak melukis tentang bentang alam (landscape). Konsep lukisan landscape secara harfiah berarti tentang pemandangan alam. Namun Srihadi melukis landscape tujuannya bukan sekadar pemandangan penuh estetika untuk menarik wisatawan, tetapi karena ia ingin memotret kehidupan yang terjadi di sekitarnya, baik di perairan, daratan, hingga udara.

Sebanyak 44 lukisan Srihadi yang menggambarkan keindahan landscape Indonesia pernah ia pamerkan di Galeri Nasional pada 2020.

Pendidik

Srihadi adalah guru besar seni rupa di Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) Institut Teknologi Bandung (ITB). ITB harus berterima kasih kepada Srihadi karena lambang ITB yang hingga saat ini masih digunakan, adalah hasil rancangannya.

Selain di ITB, Srihadi juga mengajar di Akademi Seni Rupa Lembaga Pendidikan Kesenian Djakarta (LPKD) yang merupakan cikal bakal Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Srihadi pula yang menciptakan kurikulum seni rupa di LPKD.

Di era perjuangan kemerdekaan, Srihadi bergabung menjadi tentara dengan bertugas di Balai Penerangan Militer. Tugasnya membuat poster, brosur yang isinya penyemangat perjuangan serta membuat sketsa peristiwa sebagai bahan dokumentasi internal TNI, yang waktu itu masih disebut TKR (Tentara Keamanan Rakyat). Tugasnya tidak berbeda dengan wartawan foto saat ini, menggambarkan kondisi peperangan dengan sketsa.

Jiwa pejuang itu masih tertanam hingga di usia senja. Saat pembukaan pameran tunggal dan peluncuran buku Srihadi Soedarsono - Man x Universe 2020 lalu, Srihadi sebenarnya sedang dirawat di rumah sakit. Berkat semangatnya yang menyala-nyala, Srihadi tetap hadir di pembukaan meski harus menggunakan kursi roda.

Prof Drs Kanjeng Raden Haryo Tumenggung H Srihadi Soedarsono Adhikoesoemo MA lahir di Surakarta, 4 Desember 1931. Meninggal 26 Februari 2022 di Bandung.

Srihadi meninggalkan seorang istri, Farida Srihadi yang turut berperan dalam penciptaan karya-karya besar lukisannya.

Selamat Jalan Pak Srihadi. Selamat Jalan Maestro Seni Lukis. Indonesia sangat kehilanganmu.

Baca Juga: