JAKARTA - Pemerintah mendorong pengembangan padi di lahan tadah hujan dan kering. Sebab, total luas sawah tadah hujan sampai saat ini mencapai 24 persen dari total luas lahan persawahan nasional. Curah hujan yang merata di beberapa wilayah di Indonesia memiliki nilai positif bagi petani di lahan kering.

Walaupun kondisi pertanaman di Indonesia sudah terbangun sejumlah irigasi yang baik untuk penanaman padi, tetapi ada beberapa daerah yang masih belum memiliki atau belum tersedia irigasi yang baik. Karena itu, pengembangan padi lahan kering dan tadah hujan perlu dioptimalkan.

Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian (Kementan), Suwandi, menuturkan pengembangan padi tadah hujan dan lahan kering untuk mendukung ketahanan pangan merupakan antisipasi dari ancaman krisis pangan global.

"Kementan mengoptimalkan segala potensi lahan untuk dilakukan penanaman padi," ucap Suwandi dalam acara Bimbingan Teknis dan Sosialisasi (BTS) Propaktani di Jakarta, Rabu (30/8).

Fungsional Statistisi Ahli Muda Pusdatin Kementan, Aulia Azhar A, mengungkapkan luas lahan sawah tadah hujan sekitar 1,8 juta hektare atau 24 persen dari luas sawah di Indonesia.

Jika diasumsikan produktivitas lima ton per hectare, produksi padi kurang lebih sembilan ton per hektare atau 15 sampai 20 persen dari total produksi padi nasional.

"Untuk potensi lahan kering baru ada di 24 provinsi dengan total luas 1,97 juta hektare dengan asumsi provitas padi di lahan kering 3,5 ton per hektare maka berpotensi menambah produksi padi sekitar 4,58 juta ton," jelasnya.

Subkordinator Subtansi Produksi Tanaman Pangan Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Gunung Kidul, Danang Sutopo, menjelaskan pengembangan budi daya padi tadah hujan dan lahan kering. Kabupaten Gunung Kidul dengan ekosistem karst atau pengunungan kapur dengan batuan kapur yang tersusun, berpori dan air cepat meresap.

Baca Juga: