JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS terus terfluktuasi sepekan ini. Selain data inflasi nasional awal pekan ini, sentimen penggerak rupiah sepekan ke depan diperkirakan datang dari sejumlah faktor eksternal.

Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede melihat pekan ini terdapat rilis beberapa data ekonomi seperti indeks manufaktur Tiongkok, Eropa, Inggris dan Amerika Serikat (AS). Selain itu, rilis inflasi Eropa dan diikuti oleh rilis data ekonomi AS yang penting antara lain: jobless claim, factory order, durable goods order dan data tenaga kerja pada Juni, seperti NFP AS dan tingkat pengangguran.

Menurut Josua, nilai tukar rupiah terhadap dollar AS dalam perdagangan di pasar uang antarbank, Senin (1/7), bergerak di kisaran 16.325-16.450 rupiah per dollar AS.

Sebelumnya, kurs rupiah terhadap dollar AS dalam perdagangan, Jumat (28/6), ditutup menguat 31 poin atau 0,19 persen dari sehari sebelumnya menjadi 16.375 rupiah per dollar AS. Penguatan terjadi di tengah potensi bank sentral AS atau The Fed menahan suku bunga tinggi lebih lama.

"Data komponen harga PDB AS kuartal pertama revisi final yang dirilis semalam menunjukkan pertumbuhan harga yang lebih tinggi dari perkiraan," kata pengamat pasar uang Ariston Tjendra di Jakarta.

Menurut Ariston, hal tersebut berarti inflasi AS berpotensi sulit untuk turun sehingga The Fed akan menahan suku bunga acuan di posisi sekarang lebih lama. Kondisi itu mendorong penguatan dollar AS terhadap nilai tukar lainnya.

Baca Juga: