JAKARTA - Kondisi pandemi Covid-19 telah membuat para pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) mampu mengadopsi transformasi digital sejalan dengan perubahan perilaku konsumen yang terjadi. Sebab, perilaku konsumsi masyarakat saat ini telah bergeser seiring pesatnya perkembangan teknologi digital.

"Kita tahu semua orang sepakat bahwa perilaku konsumen saat pandemi pasti berubah. Dalam survei itu, ternyata perilaku dari pelaku usahanya juga berubah," kata ekonom senior sekaligus Founder CORE Indonesia Hendri Saparini dalam Webinar UMKM Merdeka yang digelar secara daring dan dipantau dari Jakarta, Kamis (30/9).

Menurut Hendri, banyaknya pelaku UMKM yang ikut mengadopsi digitalisasi menepis kekhawatiran soal transformasi digital yang tengah digalakkan pemerintah. "Artinya tidak perlu ada kekhawatiran bahwa transformasi yang terjadi, perubahan yang terjadi di sisi konsumen tidak diikuti oleh mereka para pelaku usaha (UMKM). Ternyata mereka melakukan itu, artinya mereka dengan cepat adopsi itu," katanya.

Hendri mengakui adanya education gap di Indonesia karena masih banyaknya masyarakat dengan tingkat pendidikan yang rendah. Namun, menurut dia, mereka yang berpendidikan rendah pun ternyata mengalami literasi atau inklusi keuangan selama pandemi.

"Artinya, mereka yang pendidikan rendah pun, mereka jadi kenal tabungan, transaksi, transfer, pinjaman. Ternyata diawali digitalisasi dengan pembayaran ini, menjadikan peluang-peluang tersebut bisa dilakukan," ujarnya.

Dalam survei tersebut, terungkap bahwa sebanyak 70 persen UMKM mitra OVO rata-rata mengalami peningkatan transaksi harian hingga 30 persen. Sebanyak 68 persen UMKM juga mengalami kenaikan pendapatan bulanan hingga 27 persen.

Pembayaran Elektronik

Dalam kesempatan sama, Direktur Jenderal Aplikasi Informatika Kementerian Komunikasi dan Informatika, Samuel Abrijani Pangarepan mengatakan untuk mendorong pemanfaatan transformasi digital, pemerintah telah menggelar sejumlah program di antaranya UMKM Go Online hingga Gernas Literasi Digital.

Baca Juga: