Direktur Eksekutif IEA Fatih Birol menyebutkan, rekor pertumbuhan energi terbarukan tahun 2021 merupakan tanda lain bahwa ekonomi energi global yang baru sedang muncul.

"Tingginya harga komoditas dan energi yang kita lihat saat ini menimbulkan tantangan baru bagi industri terbarukan. Tetapi, kenaikan harga bahan bakar fosil juga membuat energi terbarukan semakin kompetitif," kata Birol.

Keterangan proyeksi IEA, energi terbarukan akan menyumbang sekitar 95 persen dari peningkatan kapasitas pembangkit listrik global hingga akhir 2026. Di antara semua negara, Tiongkok merupakan negara yang memasang kapasitas energi terbarukan paling banyak tahun ini.

Hingga saat ini, Tiongkok diproyeksikan mampu merealisasikan 1.200 gigawatt kapasitas terpasang energi angin dan surya pada 2026, atau empat tahun lebih awal dari targetnya pada 2030. Sejauh ini, Tiongkok masih menjadi penghasil emisi karbon terbesar di dunia.

Tiongkok mempunyai target puncak emisinya pada 2030, yang menurut banyak analis sudah sangat terlambat jika dunia ingin membatasi kenaikan suhu global tak lebih dari 1,5 derajat Celsius.

Perlu diketahui, India, penghasil emisi terbesar ketiga di dunia, juga mengalami pertumbuhan yang pesat dalam pengembangan energi terbarukan tahun lalu. Tetapi, targetnya untuk mencapai nol bersih pada 2070 juga dianggap terlalu lemah oleh banyak orang.

Baca Juga: