Tongkat estafet kepemimpinan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Pusat kini dipegang Letjen TNI (Purn) Marciano Norman. Selama empat tahun ke depan, mantan Kepala Badan Intelijen Negara itu mengemban tugas yang cukup berat.

Untuk itu perlu kerja sama sinergis dengan semua pihak terkait. Marciano yang sebelumnya telah akrab dengan dunia olahraga karena dirinya menjadi Ketua Umum Pengurus Besar Taekwondo Indonesia mengaku siap dengan tantangan yang bakal dihadapinya.

Untuk mengetahui apa saja yang akan dilakukan jajaran KONI ke depan, wartawan Koran Jakarta, Beni Mudesta, berkesempatan mewawancarai Ketua Umum KONI Pusat, Marciano Norman, di Jakarta, Kamis (1/8). Berikut petikan selengkapnya.

Sejauh ini sudah merencanakan apa saja untuk program kerja di KONI?

Sejak terpilih jadi ketua umum KONI dan visi dalam musyawarah olahraga nasional (Musornas), saya sampaikan akan menjadikan KONI sebagai induk organisasi olahraga yang independen, berwibawa, profesional, modern, dan mandiri. Oleh karena itu, ke depan, saya akan mencoba dengan berbagai inovasi menampung dan bekerja sama dengan pemangku kepentingan di bidang olahraga untuk membawa KONI dan cabang-cabang olahraga lain menuju kemandiriannya.

Beberapa bulan lalu KONI diterpa masalah dana hibah Kemenpora, di bawah kepemimpinan Anda bagaimana penyelesaiannya?

Terkait dana hibah di KONI, itu menjadi prioritas saya. Saya katakan tadi apa yang saya lalukan setelah menjadi ketua KONI. Pertama, saya melakukan konsolidasi internal. Konsolidasi internal itu prioritas nomor satu dan itu untuk mengatasi masalah finansial KONI. Sampai saat ini karyawan KONI sudah tujuh bulan tidak digaji. Itu menjadi prioritas saya.

Saya akan melapor kepada pemerintah tentang masalah yang dihadapi KONI dengan kementerian terkait. Jangan karyawan KONI yang menjadi korban. Boleh saja ada masalah di atas, tapi hak-hak karyawan tetap menjadi prioritas. Tujuh bulan tidak digaji itu satu hal yang sangat menyedihkan, kita harus memperhatikan itu. Karena tidak dia saja yang terkena imbasnya, keluarga akan menanggung akibatnya. Kegiatan-kegiatan mereka tidak bisa terlaksana dengan baik. Alhamdulillah, sampai saat ini mereka masih ke kantor.

Cara mencegah agar hal-hal seperti itu tidak terjadi lagi seperti apa?

Saya minta sistem distribusi keuangan itu diatur dengan lebih baik. Saya rasa mekanisme dana hibah itu sudah harus ditinjau kembali. Lebih bagus dengan sistem keuangan dari APBN itu langsung ke KONI untuk melakukan kegiatan, termasuk untuk gaji karyawan. Saya rasa itu jauh lebih bagus daripada seperti sekarang.

Tahun ini Indonesia akan menghadapi SEA Games di Filipina dan tahun depan Olimpiade Tokyo, langkah apa yang dipersiapkan?

Saya selaku Ketua Umum KONI Pusat yang baru, melanjutkan proses pembinaan yang telah dilakukan KONI masa sebelum saya. Pada sisa waktu empat bulan untuk persiapan SEA Games, saya mulai pekan depan mengunjungi ke Pelatnas untuk berinteraksi dengan atlet. Jangan lupa kehadiran seorang pimpinan induk organisasi olahraga itu merupakan motivasi yang besar bagi para atlet.

Saya akan mengajak dan mendorong mereka untuk lebih giat berlatih. Saya harap ke depan kita bisa melahirkan atlet-atlet juara dunia lebih banyak lagi, yang tidak hanya dari bulu tangkis, angkat besi, dan panahan. Mari kita sama-sama membuat Indonesia bangga kepada atlet-atletnya. Atlet-atlet itu harus selalu menjadi ikon dari anak-anak kita. Saya ingin anak-anak Indonesia bermimpi menjadi seperti Taufik Hidayat atau Alan Budikusuma. Saya berharap anak-anak Indonesia di kamarnya memajang foto atlet Indonesia idola mereka.

Saya akan menata kembali komunikasi dengan cabang olahraga, dengan kementerian pemuda dan olahraga, KOI serta pemangku kepentingan di bidang olahraga. Saya rasa komunikasi itu menjadi syarat untuk bisa melangkah lebih jauh ke depan. Menuju kemandirian KONI dan organisasi olahraga menjadi rencana ke depan saya. Saya berharap ketergantungan kepada pemerintah semakin berkurang.

Saya berharap jika satu hari nanti bisa berdiri sendiri itu adalah hal yang sangat baik. Semua harus melalui perencanaan yang baik. Saya optimistis melalui kerja sama yang baik dengan perusahaan BUMN dan BUMD, maupun pengusaha swasta yang besar dan orang per orang yang punya interest pada olaharaga dengan pola kerja sama yang saling menguntungkan, tentunya kita akan lebih maju.

Saya tak ingin organisasi olahraga itu kesannya adalah organisasi yang minta-minta dan menjadi beban. Ini masih terjadi, tapi ke depan jika yang namanya sport industri itu sudah berjalan, kita akan melangkah maju. Kita tidak tergantung pada siapa pun.

Bagaimana mengatasi kendala terutama dana dalam pembinaan olahraga saat ini?

KONI daerah itu dapat anggaran dari APBD, untuk sementara itu yang mereka gunakan untuk pembinaan di daerah-daerah. Sampai tingkat kabupaten dan kecamatan itu ada mata anggaran yang dialokasikan oleh dinas pemuda dan olahraga. Tapi supaya anggaran yang dikeluarkan pemerintah itu tidak sekadar hanya bisa dipertanggungjawabkan dalam bentuk finansial, tapi juga harus ada pertanggungjawaban dalam hal capaian prestasi.

Untuk bisa mendapatkan prestasi yang unggul, dalam program pembinaan dan pelatihan, harus mendapat asistensi dari pakar-pakar yang kita miliki. Misalnya bulu tangkis, kita sudah sangat maju, cabang lainnya seharusnya belajar dari bulu tangkis bagaimana mereka bisa melahirkan atlet-atlet kelas dunia. Itu tantangan untuk cabang olahraga lain. Mereka harus bertekad mencetak atlet-atlet kelas dunia.

Bagaimana merangkul kembali seluruh anggota KONI untuk memajukan olahraga Indonesia?

Dinamika di Musornas adalah hal yang wajar di era demokrasi. Ada yang memilih walkout. Tapi dalam satu Musornas, penjaringan ketua umum semuanya sudah melalui dan mengikuti aturan. Kalau kita sudah tahu aturan, harus menerima dengan baik. Menurut saya, ini bukan masalah yang besar. Ke depan, untuk teman-teman dari KONI daerah, kawan-kawan dari cabang olahraga yang sempat berbeda pendapat, saat marahnya sudah selesai, saya minta untuk kembalilah.

Ibaratnya dalam rumah tangga, anak kita sedang marah, dia pergi, nginap di rumah temannya. Kalau marahnya sudah selesai, kan kembali pulang. KONI pusat ini adalah rumah mereka, tempat kita bergabung bersama mewujudkan komitmen yang kuat dalam membina dan memajukan olahraga Indonesia. Untuk bisa maju, kita harus bergandeng tangan, merapatkan barisan, menyamakan langkah, sehingga cita-cita rakyat Indonesia untuk melihat atlet-atletnya berjaya di level dunia. Buat Indonesia bangga dengan prestasi atlet-atletnya.

Anda mengundang Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam acara pelantikan pengurus, mengapa hal itu dilakukan?

Kehadiran KPK menunjukkan keinginan kami untuk menciptakan kerja yang tertib, aman, dan bersih dari tindakan melanggar hukum, khususnya korupsi. Ini untuk meningkatkan kepercayaan masayarakat kepada KONI sebagai lembaga tertinggi olahraga nasional.

Marilah kita bersama-sama mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap KONI. Bicara KONI jangan hanya soal operasi tangkap tangan, tapi bicara KONI adalah bicara prestasi olahraga Indonesia. Ingat, para atlet itu berjuang dengan menjunjung sportivitas yang mengutamakan kejujuran dalam meraih prestasi. Maka jangan dinodai dengan perilaku yang tidak terpuji.

Terkait susunan pengurus, apa pertimbangan Anda dalam memilih dan menempatkan seseorang?

Kepengurusan KONI Pusat disusun dengan melibatkan semua unsur untuk bersama-sama memajukan olahraga Indonesia. Kepengurusan disusun sesuai dengan tantangannya. Contohnya, posisi sekretaris jenderal, saya percayakan kepada mantan atlet nasional taekwondo, TB Ade Lukman. Kemudian Dodi Gambiro dipercaya menempati posisi ketua bidang pembinaan prestasi.

Saya sadar, mungkin kami bukan yang terbaik, tapi saya yakin kita mempunyai komitmen yang kuat untuk memajukan olahraga Indonesia. Kita yakin akan kebersamaan kita. Kita harus saling dukung.

Kapal ini tidak boleh tenggelam. Justru harus terus maju berlayar dengan gagah. Sebagai nakhoda saya ingin menuju ke destinasi yang jelas dan penuh harapan. Kita ingin KONI mampu mengangkat olahraga Indonesia, bisa mengangkat harkat martabat bangsa dan negara ke tempat tertinggi sejajar dengan bangsa maju lain.

Sebagai seorang yang senang mengurus olahraga, selain taekwondo, apa cabang olahraga favorit Anda?

Olahraga favorit saya sebenarnya berkuda. Saya telah menjadi atlet sejak anak-anak, hingga sampai sekarang saya masih aktif naik kuda. Keluarga saya akrab dengan olahraga berkuda. Jadi, itu bagi kami berkuda adalah olahraganya keluarga.

Klub atau atlet favorit?

Kalau sepak bola itu Liga Inggris. Sebetulnya klub favorit saya Arsenal. Tapi hasil yang diraih "The Gunners" musim lalu tidak sesuai harapan. Tahun depan, semoga Unai Emery (pelatih Arsenal) bisa membawa "The Gunners" kembali ke empat besar dan menjadi juara Eropa dan juara Liga Inggris.

Hal yang membuat saya suka dengan Arsenal, selain gaya dan filosofi permain, kebijakan belanja pemain mereka sangat terukur. Pada era Arsene Wenger, klub itu bisa menjadikan seorang pesepak bola murah menjadi bintang dan berharga sangat mahal.

Apa yang membuat Anda mau mengurusi olahraga mulai dari taekwondo sekarang Ketua Umum KONI Pusat?

Saya melihat proses pembinaan olahraga itu sangat menarik buat saya. Itu memang saya sukai dan saya cintai betul. Saya terlibat dalam banyak kepengurusan olahraga. Saya menjadi ketua karate di Kalimantan Barat. Saya juga pernah di Tarung Drajat, pernah di olahraga berkuda.

Itu memang dunia yang saya sukai sehingga saya memilih di saat saya sudah pensiun sebagai anggota TNI dan pejabat publik. Saya sudah dapatkan semuanya karier puncak di kedua bidang itu. Saya berpikir di masa pensiun, mengapa saya tidak fokus mendarmabaktikan tenaga dan pikiran saya untuk meningkatkan pembinaan olahraga.

Kebetulan saat berpikiran seperti itu masa kepemimpinan saya di taekwondo berakhir dan kebetulan KONI sedang mencari calon ketum baru dan saya daftarkan diri saya. Alhamdulillan saya terpilih.

Banyak pengurus cabang olahraga berasal dari militer, menurut Anda itu kebetulan atau bukan?

Rata-rata perwira TNI itu di dalam kehidupan sehari-hari saat bertugas di pleton, kompi, batalion sampai yang lebih besar, Kodam, divisi, dan lain-lainnya, mereka sudah selalu akrab dengan dunia olehraga. Karena itulah, mereka sudah pasti punya pengalaman membina cabang olahraga di tingkat sesuai dengan kedudukannya saat itu.

Kami selalu diminta di daerah-daerah menjadi pembina olahraga. Oleh karenanya, pada saat mereka sudah tidak aktif di militer, kalau mereka tetap ingin melakukan kegiatan pembinaan olahraga, saya rasa itu adalah hal yang sangat wajar.

N-3

Baca Juga: