Masyarakat hendaknya ikut aktif mengawasi kinerja perusahaan BUMN agar ke depan tidak terjadi lagi penyuapan yang melibatkan pejabat di PT Dirgantara Indonesia.

JAKARTA - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengkonfirmasi enam saksi terkait penganggaran mitra penjualan PT Dirgantara Indonesia (PT DI). Dari enam saksi tersebut, salah satunya adalah mantan Direktur Niaga dan Restrukturisasi PT DI Budiman Saleh yang saat ini menjabat Direktur Utama PT PAL Indonesia (Persero).

"Penyidik mengkonfirmasi terkait penganggaran mitra penjualan yang diduga dimasukkan dalam sandi-sandi anggaran. Kemudian anggaran tersebut dibayarkan kepada para mitra padahal penjualan dan pemasaran produk PT DI tersebut diduga fiktif," kata Pelaksana Tugas Juru Bicara Penindakan KPK, Ali Fikri, di Jakarta, Rabu (8/7).

KPK memeriksa Budiman sebagai saksi dalam penyidikan kasus suap kegiatan penjualan dan pemasaran pada PT DI Tahun 2007-2017 untuk tersangka mantan asisten Direktur Bidang Bisnis Pemerintah PT DI, Irzal Rinaldi Zailani (IRZ).

Selain Budiman, lima saksi yang diperiksa yakni Manajer Keuangan Teknologi dan Pengembangan PT DI 2010-2013 Dedi Turmono, Sales Manager PT Abadi Sentosa Perkasa Andi Sukandi, mantan Kepala Divisi Perbendaharaan Muhammad Fikri. Kemudian, Divisi Sales Direktorat Niaga PT DI Djajang Tarjuki, Supervisor Perencanaan dan Strategi Pemasaran PT DI 2012-2013 dan Plt Manager Pricing and Bidding Preparation PT DI 2014-2016 Dani Rusmana.

Sudah Jadi Tersangka

Selain Irzal, KPK juga menetapkan mantan mantan Direktur Utama PT DI Budi Santoso (BS) sebagai tersangka. Keduanya telah diumumkan sebagai tersangka pada 12 Juni 2020. Diketahui pada awal 2008, tersangka Budi dan tersangka Irzal bersama-sama dengan para pihak lain melakukan kegiatan pemasaran penjualan di bidang bisnis di PT DI.

Budi sebagai direktur utama dan dibantu oleh para pihak bekerja sama dengan mitra atau agen untuk memenuhi beberapa kebutuhan terkait dengan operasional PT DI. Adapun proses mendapatkan dana untuk kebutuhan tersebut dilakukan melalui penjualan dan pemasaran secara fiktif.

Pada 2008 dibuat kontrak kemitraan/agen antara PT DI yang ditandatangani oleh Direktur Aircraft Integration, Direktur PT Angkasa Mitra Karya, PT Bumiloka Tegar Perkasa, PT Abadi Sentosa Perkasa, PT Niaga Putra Bangsa, dan PT Selaras Bangun Usaha. Atas kontrak kerja sama mitra/agen tersebut, seluruh mitra/agen tidak pernah melaksanakan pekerjaan berdasarkan kewajiban yang tertera dalam surat perjanjian kerja sama sehingga KPK menyimpulkan telah terjadi pekerjaan fiktif.

Selanjutnya pada 2011, PT DI baru mulai membayar nilai kontrak tersebut kepada perusahaan mitra/agen setelah menerima pembayaran dari pihak pemberi pekerjaan. Selama 2011 sampai 2018, jumlah pembayaran yang telah dilakukan oleh PT DI kepada enam perusahaan mitra/agen tersebut nilainya sekitar 330 miliar rupiah terdiri dari pembayaran 205,3 miliar rupiah dan 8,65 juta dollar AS atau sekitar 125 miliar rupiah sehingga terjadi kerugian negara sekitar 330 miliar rupiah.

Setelah enam perusahaan mitra/agen tersebut menerima pembayaran dari PT DI, terdapat permintaan sejumlah uang baik melalui transfer maupun tunai sekitar 96 miliar rupiah. n ola/Ant/N-3 *

Baca Juga: