Keputusan Tesla memilih BHP Australia sebagai sumber nikel perusahaan harus dijadikan bahan pelajaran bahwa kepedulian lingkungan telah menjadi bagian dari tren bisnis global.

JAKARTA - Kurang seriusnya Indonesia mengembangkan energi baru terbarukan (EBT) yang ramah lingkungan dampaknya sangat mahal. Beberapa peluang bisnis terancam gagal karena Indonesia masih terus mengembangkan energi kotor yang sangat polutif.

Dampak nyata sudah terlihat, perusahaan mobil listrik raksasa asal Amerika Serikat, Tesla, yang beberapa waktu lalu digaung-gaungkan akan menanamkan modal di Indonesia di bidang baterai untuk pembuatan mobil listrik, kini tidak ada kelanjutannya.

Bahkan, kabar terbaru menyebutkan bahwa perusahaan pertambangan Inggris-Australia, BHP, telah mencapai kata sepakat dengan Tesla untuk menyediakan pasokan nikel di Australia Barat. Nikel merupakan logam penting dalam memproduksi baterei bertenaga tinggi untuk mobil listrik.

Mantan Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Arcandra Tahar, di akun Instagram pribadinya, @arcandra.tahar, memberi beberapa alasan mengapa perjanjian Tesla-BHP tersebut bisa terjadi. Pertama, Tesla menunjukkan usaha dan berpartisipasi dalam mengurangi dampak perubahaan iklim. Sedangkan BHP adalah salah satu perusahaan tambang yang sangat peduli dengan lingkungan dan berhasil menjadi penambang nikel dengan emisi CO2 terkecil.

Kemudian, kesamaan visi antara Tesla dan BHP dalam mengatasi masalah kerusakan lingkungan akibat kegiatan bisnis yang tidak berorientasi ramah lingkungan. Tesla dan BHP berkomitmen untuk punya usaha yang berkelanjutan (sustainable) dan andal, sehingga kegiatan bisnis mereka bisa bertahan lama. "Pandangan jauh ke depan dari kedua perusahaan ini akan saling menguatkan posisi mereka di mata investor," ungkap Arcandra.

Dalam jangka pendek, memang akan ada biaya lebih yang harus dikeluarkan penambang ramah lingkungan. Namun, biaya tenaga kerja yang lebih mahal di Australia bukan menjadi pertimbangan investor untuk menanamkan modalnya. Paling tidak bukan sebagai faktor penentu investor berinvestasi di sana.

Menurut Arcandra, investor lebih punya ketertarikan terhadap perusahaan dan peluang bisnis yang ramah lingkungan. Perusahaan kelas dunia sangat cerdas dalam mengumpulkan data-data yang akurat terhadap komitmen sebuah perusahaan, termasuk praktik-praktik bisnis yang biasa mereka lakukan di suatu negara. Inilah konsekuensi zaman baru yang terbuka dan transparan.

Direktur Eksekutif IESR (Institute for Essential Services Reform), Fabby Tumiwa, mengatakan Tesla memang sudah punya kebijakan internal untuk menurunkan carbon footprint (jejak karbon) dari produk-produknya. Salah satunya lewat ketentuan green nickel yang mengharuskan Tesla membeli dari produsen yang melakukan praktik pertambangan yang berkelanjutan dan carbon footprint yang rendah

Saat ini, lanjut dia, perusahaan-perusahaan dunia telah mensyaratkan pada rantai pasoknya untuk memperhatikan praktik-praktik keberlanjutan (sustainable), rendah karbon, dan penggunaan Energi Baru Terbarukan (EBT). "Artinya, kalau Indonesia ingin masuk dalam rantai pasok global, produsen-produsen Indonesia harus mulai menerapkan standar lingkungan dan sosial yang tinggi, produksi yang rendah karbon, dan memanfaatkan EBT," tegasnya.

Dalam diskusi transisi energi, Ketua Umum Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI), Surya Darma, menegaskan bahwa tren transisi energi menjadi net zero emissions pada tahun 2050 merupakan satu keharusan.

Kendati demikian, Surya Darma masih menyayangkan perkembangan pemanfaatan EBT yang relatif stagnan dalam bauran energi nasional. "Ini karena porsi non-EBT (energi kotor) naik sangat drastis, sementara EBT sedikit sehingga baurannya menurun," tegasnya.

Pengamat Ekonomi dari Universitas Surabaya, Wibisono Hardjopranoto, mengatakan keputusan Tesla memilih BHP Australia sebagai sumber nikel perusahaan harus dijadikan bahan pelajaran bahwa kepedulian lingkungan telah menjadi bagian dari tren bisnis global.

"Kasus Tesla ini harus dijadikan pelajaran keteledoran kita, karena sudah terlalu lama mengeksploitasi sumber daya alam demi keuntungan semata. Apalagi perusahaan-perusahaan global sekarang memilih negara yang lebih ramah lingkungan. Perusahaan-perusahaan yang punya kepedulian seperti ini harus diapresiasi dengan berbagai bentuk stimulus agar investasi tetap terjaga dan tujuan kita tentang emisi karbon yang ramah lingkungan juga tercapai," pungkasnya.

Direktur Centre for Waste Manegment and Bio Enegeri Universitas Janabadra Yogyakarta, Mochamad Syamsiro, mengatakan kegagalan kesepakatan dengan Tesla banyak faktor, tapi yang pasti perusahaan Elon Musk itu pemain energi bersih yang butuh kestabilan politik dan visi jelas dari sebuah negara yang bekerja sama dengannya.

Meski nikel Indonesia murah, Tesla tidak mau membeli karena Tesla tidak mau dikecam dunia. Bisnis mobil lisrtrik yang Tesla jalankan adalah bisnis energi bersih.

"Ini adalah pelajaran bahwa pemerintah jangan melihat keuntungan jangka pendek. Indonesia bukan hanya tidak mengurangi energi kotor dan polutif, tetapi malah menambah dengan terus membangun PLTU baru. Ini bukan tidak bisa tetapi kita tidak mau mengurangi energi kotor. Ini jelas merugikan karena hanya demi kepentingan bisnis sesaat, kepentingan primitif, akibatnya kita tertinggal bukan hanya dari ekonomi, tetapi juga di bidang teknologi. Inilah biaya yang sangat mahal yang harus dibayar karena Indonesia tidak serius membangun EBT," katanya.

Memang aneh, Indonesia yang hanya memiliki tiga persen cadangan batu bara dunia, namun eksploitasi batu bara terus-menerus dilakukan. Saat ini, Indonesia menjadi negara nomor satu pengekspor batu bara di dunia. Ironisnya, sekitar 20 persen rakyat Indonesia belum bisa mengakses listrik dari negara. Mereka adalah rakyat Indonesia yang tinggal di pedalaman, tempat-tempat terpencil, dan ratusan pulau-pulau kecil di pelosok Nusantara.

Mematikan

Di samping terbukti mahal dari segi biaya, menurutnya energi kotor juga mematikan. Mematikan potensi atau prospek investasi industri. Ujung-ujungnya mematikan prospek ekonomi Indonesia. Investor enggan masuk karena Indonesia tidak serius mengembangkan EBT. Ini kan juga mematikan masa depan Indonesia karena daya saing Indonesia menjadi lemah.

Selain itu, energi kotor yang terus kita kembangkan benar-benar mematikan rakyat dan penduduk di sekitar pembangkit energi. Hasil riset Global Alliance on Health and Pollution (GAHP) menyebutkan, Indonesia menjadi negara keempat terbesar penyumbang kematian akibat polusi. Riset tersebut mencatat ada 232,9 ribu kematian di Indonesia akibat polusi pada 2017 dan 123,7 ribu orang meninggal akibat polusi udara.

n ers/YK/SB

Baca Juga: