JAKARTA - Dihadirkannya mantan Gubernur Sultra, Nur Alam dalam persidangan sebagai saksi di Pengadilan Negeri (PN) Kendari, berbuntut panjang. Karena setelah itu, muncul demo di Jakarta, usai Nur Alam hadir sebagai saksi di pengadilan.

Munculnya aksi demo ini, disesalkan putra kandung Nur Alam, Radhan Al Gindo. Dalam keterangan tertulisnya yang diterima Koran Jakarta, Radhan menegaskan kehadiran mantan Gubernur Sulawesi Tenggara Nur Alam sebagai saksi di Pengadilan Negeri (PN) Kendari atas permintaan jaksa penuntut umum (JPU).

"Ayah saya, Nur Alam sedang menjalani hukuman sebagai warga binaan di Lapas Sukamiskin dengan putusan hukum tetap," kata Radhan.

Radhan juga membantah jika ada tudingan yang menyatakan Nur Alam sering keluar dari Lapas Sukamiskin. Kata dia, apapun tindakan yang dilakukan Nur Alam selalu dalam pengawasan dan prosedur yang ditetapkan Kementerian Hukum dan HAM.

"Masyarakat harus paham, dalam pelaksanaan pembinaan warga binaan termasuk di Lapas Sukamiskin, Kemenkumham selalu berpedoman kepada ketentuan SOP dan regulasi lainnya, dalam memberi izin keluar bagi warga binaan," ujarnya.

Ditambahkannya, bahwa warga binaan merupakan warga negara yang mempunyai hak-hak lain seperti izin berobat karena sakit, izin menjenguk anak sakit, menjadi wali nikah serta alasan lain yang diperbolehkan oleh UU.

Ia menegaskan Kemenkumham sebagai pihak yang melakukan pembinaan di Lapas menyampaikan fungsi Lapas adalah bukan lagi pemidanaan seperti anggapan masyarakat awam. Namun sudah berubah menjadi pemasyarakatan yang lebih mengedepankan sisi kemanusiaan hak-hak warga binaan pemasyarakatan.

Pasca kesaksian itu kata Radhan, dirinya mendapatkan informasi jika sekelompok orang akan menggelar demo di Jakarta, Jumat (9/4). Seperti diketahui, sebelumnya JPU PN Kendari memanggil Nur Alam sebagai saksi pada Selasa (23/3) dalam kasus pidana pemalsuan tanda tangan dengan terdakwa Amran Yunus, mantan Direktur Utama PT Tonia Mitra Sejahtera.

Bahkan dalam persidangan itu, Nur Alam membawa bingkisan berupa cermin dan kopiah. Cermin lalu dihadapkan kepada terdakwa Amran Yunus dan menyampaikan bahwa apa yang Anda lakukan merupakan tanggungjawab Anda. Sementara kopiah melambangkan kata tobat. Kasus pemalsuan tanda tangan bermula dari laporan Hamdan Zoelva sebagai kuasa pelapor dari Muhamad Lutfi sebagai komisaris dan Ali Said sebagai direktur.

Baca Juga: